Showing posts with label Kalam Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Kalam Hikmah. Show all posts

Thursday, 28 April 2016

Bersedih Karena Dunia, Susah di Akhirat

Bersedih Karena Dunia, Susah di Akhirat


“Wahai anak Adam! Siapa yang bersedih karena dunia, hal itu hanya akan menjauhkannya dari Allah. Di dunia dia lelah, di akhirat mendapat susah. Allah akan membuat hatinya selalu risau, selalu sibuk berkepanjangan, -miskin tak pernah bisa kaya, dan selalu diliputi oleh angan-angan.
Wahai anak Adam! Umurmu setiap hari berkurang, tapi engkau tidak mengetahui, Setiap hari Aku datang membawa rezekimu, tapi engkau tak pernah puas dengan yang sedikit, dan tak pernah
kenyang dengan harta yang banyak.
Wahai anak Adam! Setiap hari aku berikan rezeki padamu. Sementara setiap malam para malaikat datang pada-Ku membawa amal burukmu. Engkau makan rezeki-Ku, tapi engkau bermaksiat kepada-Ku. Engkau berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Kebaikan-Ku tercurahkan untukmu, tetapi kejahatanmu yang sampai kepada-Ku. Sebaik-baik kekasihmu adalah Aku. Sedangkan seburuk-buruk hamba-Ku adalah engkau. Engkau lepaskan apa yang Kuberikan padamu. Kututupi keburukanmu setelah sebelumnya terbuka. Aku malu padamu, tetapi engkau tak pernah malu pada-Ku.
Engkau
melupakan-Ku dan mengingat yang lain. Engkau merasa takut pada manusia, dan merasa aman dari-Ku. Engkau takut pada murka mereka dan tidak takut dengan murka-Ku.
Hadits Qudsi dari kitab kimiya As-Sa'adah karya Imam Al-Ghazali

Anda Mengeluh Tidak Makan Seharian

Anda Mengeluh Tidak Makan Seharian


Anas ibn Malik ra. bercerita:
Suatu hari Nabi Muhammad saw. berkunjung ke rumah Siti Fatimah ra. lalu, Fatimah mengadu kepada beliau bahwa ia sekeluarga belum makan sejak tiga hari. Nabi pun memperlihatkan perutnya yang diganjal batu. Beliau bersabda: Fatimah, kalau kalian belum makan sejak tiga hari, Ayahmu sudah empat hari belum mencicipi makanan sama sekali. Lalu Rasulullah saw. meninggalkan rumah Fatimah sambil bergumam, “Kasihan Hasan dan Husain yang sedang kelaparan!”. Beliau terus menyusuri jalan-jalan sekitar Madinah hingga melewati Pasar.
Di sana beliau bertemu dengan seorang a’rabi (pedalaman) yang sedang menimba air dari sumur. Beliau berhenti di dekat orang itu. Orang tidak tahu bahwa yang berhenti di dekatnya adalah Nabi Muhammad saw. Beliau bertanya padanya, wahai a’rabi apa kau membutuhkan seseorang untuk disewa jasanya? Ia menjawab, ya. Apa tugasnya? Menimba air dari sumur ini. Lalu si a’rabi memberikan timba kepada Nabi.
Beliau mulai menimba air. Satu timba air diberi upah tiga kurma. Beliau makan tiga kurma tersebut. Beliau menimba lagi sebanyak delapan (8) timba air. Ketika mau menimba yang ke-sembilan, talinya putus hingga timbanya jatuh ke dalam sumur.
Nabi jadi bingung. Lalu si a’rabi itu menghampiri beliau dengan wajah murka dan menampar wajah Rasulullah saw. Ia memberikan upah 24 kurma kepada beliau. Beliau menerima upah tersebut. Lalu beliau mengambil timba dari sumur tadi (tentu sangat dalam) dengan tangannya dan melemparkannya ke hadapan si a’rabi.
Beliau meninggalkan si a’rabi. Orang itu tertegun sejenak dan berkata: Ini bukan orang sembarangan. Ini pasti seorang Nabi! Ia mengambil pisau besar dan memotong tangan kanannya yang telah menampar Nabi tadi. Ia pun pingsan.
Lalu ada satu rombongan menemukan a’rabi yang pingsan tadi. Mereka memercikkan air padanya sampai ia sadar. Apa yang menimpamu? Kata mereka.
Aku telah menampar wajah seseorang yang menurutku dia adalah Nabi Muhammad saw. Aku takut terkena siksa Allah. Makanya, kupotong tangan yang telah lancang menampar Nabi tadi.
Kemudian ia bergegas menuju masjid Nabawi sambil membawa tangan kanan yang terpotong. Ia berteriak: Wahai para sahabat Muhammad, mana Muhammad? Abu Bakar, Umar dan Utsman sedang duduk di masjid tersebut. Mereka bertanya,, "Mengapa kau mencari Nabi Muhammad?"
Orang itu menjawab, "Aku ada kepentingan dengannya." Lalu Salman al-Farisi mengantarkan orang a’rabi itu ke rumah Fatimah ra.
Setelah mendapatkan upah kurma, Rasulullah saw. bergegas ke rumah puterinya (Fatimah). Beliau memangku Hasan di paha kanan dan Husain di paha kiri sambil menyuapi mereka berdua dengan kurma. Lalu terdengarlah si a’rabi berteriak, "Wahai Muhammad!"
Rasulullah menyuruh Fatimah untuk melihat siapa yang datang. Fatimah keluar dan melihat ada seorang a’rabi yang sedang memegang tangan kanannya yang terpotong dan berlumuran darah.
Fatimah masuk ke rumahnya untuk memberi tahu kepada Ayahnya apa yang ia lihat. Nabi berdiri menghampiri si a’rabi.
Saat melihat Nabi, si a’rabi berkata: Wahai Nabi Muhammad, maafkan diriku. Sungguh tadi aku tidak mengenalmu. Nabi bertanya, mengapa kau potong tanganmu? Ia jawab, Aku tidak sudi membiarkan tangan yang telah kugunakan untuk menampar wajahmu. Nabi bersabda, Masuklah pada agama Islam, kau akan selamat!
Ia berkata, wahai Muhammad! Kalau kau memang seorang Nabi, sambungkan lagi tanganku yang terpotong ini. Nabi mengambil tangan kanan a’rabi tersebut dan meletakkan di tempat semula, disambungkannya dan diusap dengan tangan beliau, serta dibacakan asma Allah dan diludahi. Subhanallah, dengan izin Allah tangan tersebut sembuh seperti semula. Kemudian, si a’rabi tadi masuk Islam. Alhamdulillah...
Ambil hikmah dari kisah ini
- Mengapa nabi tidak minta makanan kepada para sahabat, kan mereka banyak yang kaya? Silakan direnungkan.
Beratnya ujian menunjukkan tingginya kelas

Sunday, 24 April 2016

6 Alasan Mencari Teman Shaleh

6 Alasan Mencari Teman Shaleh


: يقول ابن القيم رحمه الله
مجالسة الصالحين تحولك من ستة إلى ستة

1- من الشك إلى اليقين
2- ومن الرياء إلى الإخلاص
3- ومن الغفلة إلى الذكر
4- ومن الرغبة في الدنيا إلى الرغبة في الآخرة
5- ومن الكبر إلى التواضع
6- ومن سوء النية إلى النصيحة
Imam ibnul qayyim rahimahullah berkata :
"Berkumpul dengan orang-orang yang sholeh akan mengubahmu dari enam hal kepada enam hal :
1. Dari keraguan (dalam perkara agama) menjadi yakin.
2. Dari sikap riya' menjadi ikhlas dalam beribadah.
3. Dari lalai untuk berdzikir menjadi senantiasa berdzikir.
4. Dari ambisius dunia menjadi cinta akhirat.
5. Dari sifat sombong menjadi penuh tawadhu'.
6. Dari niat yang buruk dalam berbicara menjadi senantiasa memberi ikhlas memberi nasihat.

Perdamaian Maknanya Mengalah

Perdamaian Maknanya Mengalah


Habib Ali Al-Jufri:
Saat itu, Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib adalah orang yang berhak untuk diangkat menjadi khalifah. Ketika beliau memahami bahwa kelanjutannya dalam masalah khilafah akan menimbulkan pertumpahan darah, beliau langsung mengalah. Padahal saat itu beliau telah dibai'at oleh sebagian orang Islam.
Demi menjaga agar tidak terjadi pertumpatahan darah, beliau mengalah dan memberikan tahta khilafah kepada Mu'awiyah bin Ai Sufyan dengan syarat bahwa Muawiyah mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Sebagian pendukung Imam Hasan pada waktu itu sangat marah dengan sikap yang beliau ambil. Pernah suatu kali, salah seorang dari mereka berjalan melewati Imam Hasan dan berkata,
"Assalamualaika ya mudzillah mu'minin."
(Mudzillah Mu'minin artinya seseorang yang telah mempermalukan dan menghinakan orang-orang mukmin).
Lalu Imam Hasan memanggilnya dan berkata, "Apa yang tadi kamu katakan?"
Tadi saya mengatakan, "Assalamualaika ya Mudzillah mu'minin."
Imam Hasan menjawab, "Saya bukan seperti kamu sebutkan. Tapi saya tidak suka bahwa saya membunuh mereka hanya karena kekuasaan."
Sikap seperti ini telah didukung oleh Rasulullah Saw. jauh sebelum sikap ini beliau ambil. Rasulullah Saw. pernah bersabda,
"Sungguh cucuku ini (Imam Hasan) adalah Sayyid (seorang tuan). Semoga Allah mendamaikan di antara dua golongan besar dari orang-orang Islam dengannya." HR. Bukhari
Jadi golongan mana yang akan kita ikuti? Golongan Rasulullah-kah atau golongan yang lainnya?

Tuesday, 19 April 2016

Cara Menjur Menjadi Keluarga Sakinah

Cara Manjur Menjadi Keluarga Sakinah


Akan lebih mudah untuk merealisasikan keluarga "Sakinah mawaddah wa Rahmah" sesuai impianmu sebelum menikah, apabila "Pasutri" Pasangan suami istri mengerti dan memahami hak-hak masing pihak.
Keinginan dan impian itu sejatinya sudah pernah ada sejak anda memasangkan cincin pernikahan kepada sans Istri dan istri juga sudah berjanji untuk bersama-sama mengarungi bahtera kehidupan berumah tangga, namun seiring berjalannya waktu, Misi prinsipil dalam ikatan suci itu terabaikan tanpa alasan.
Hal itu juga dituangkan di buku nikah anda, mungkin anda tidak sempat membacanya atau mengulangi untuk membacanya lagi.

Saudara-saudariku.

Adapun Pernikahan merupakan tanggung jawab yang berat bagi pasangan suami istri. Karena hal itu adalah Amanat dari Allah Ta'ala dan wasiat Rasulullah yang harus dijaga.

SUAMI sebagai IMAM, Pemikul (pengemban) amanah terberat, tidak sekedar memberi nafkah zhohir dan bathin Tetapi ia juga bertanggung jawab dengan "NAFKAH TARBIYYAH" Pendidikan anak (dengan Ilmu Agama & Akhlak) dan membimbing istri menjadi istri yang sholehah.
Mudah-mudahan Allah Ta'ala memudahkan dan mewujudkan segala impian kita menuju kebaikan dunia dan Akhirat,

Monday, 18 April 2016

Harta Adalah Cobaan

Harta Adalah Cobaan


HABIB ALI AL-JUFRI berkata:
“Harta dunia hakikatnya adalah cobaan. Karena itu jika anda melihat orang memiliki harta atau apa pun yang sifatnya duniawi. Anda mestinya prihatin dan mendoakan agar ia disembuhkan serta diberi pertolongan atas cobaan itu.
Bukan malah mendengki mereka dan berharap seperti mereka. Anda benar-benar bodoh jika mendengki seseorang karena dunia.
Apa yang anda dengkikan? Dunia tidak lebih dari bangkai dan kotoran. Daripada mendengki, sebaiknya anda doakan saja mereka semoga diberi petunjuk oleh Allah dalam menggunakan nikmat itu.
Kalau anda mau iri, tunjukkanlah itu kepada orang yang selalu berbuat baik, orang yang senantiasa taat, dan orang yang hatinya bercahaya. Maksudnya, jadilah anda seperti mereka.
Dunia tidak hanya dimiliki Qarun, tetapi juga orang-orang saleh. Dimiliki Abu Bakar dan Abdurrahman ibn Auf. Lihatlah bagaimana mereka memperlakukan dunia.
Tunjukkanlah iri anda kepada mereka yang baik dalam memperlakukan dunia, bukan kepada dunia yang mereka miliki.”